Sejarah seluruh umat
manusia adalah sejarah perjuangan kelas. Kalimat singkat dan padat yang
terdapat di pembukaan Manifesto Komunis ini bisa dibilang merupakan intisari
dari tesis Marx tentang masyarakat. Tesis ini menegaskan bahwa masyarakat
sebenarnya adalah kelas-kelas yang saling bertentangan dan tidak terdamaikan.
Masyarakat terdiri dari kelas yang berkuasa-yang dikuasai; menindas-tertindas;
dst. Melihat dari fakta sejarah, terutama sejarah perkembangan masyarakat
Eropa, maka tesis ini menemukan pembuktiannya. Di zaman romawi kuno, kita
mengenal kelas-kelas dalam masyarakat seperti bangsawan, ksatria, rakyat biasa
dan budak. Di era abad pertengahan, masyarakat Eropa terbagi dalam kelas
feodal, petani dan borjuasi. Begitu pula di era saat ini, di era kapitalisme kelas
yang tidak terdamaikan dan saling bertentangan terlihat sangat jelas: borjuasi
dan proletar.
Senin, 29 Juli 2013
Selasa, 23 April 2013
Mayday dan Mahasiswa
Keberadaan
buruh sebagai hasil dari sistem kapitalistik yang dianggap oleh golongan kiri
merupakan agen penghancur dari sistem kapitalisme itu sendiri dewasa ini
semakin meningkat ke arah yang semakin tinggi tingkat kesadaran dan
militansinya. Berdasarkan uraian historis, kelas buruh menunjukkan beberapa
kemenangan besar yang pernah dicatat (tentu disamping kekalahan-kekalahan yang
juga tidak kalah banyaknya). Kemenangan tersebut diantaranya dicatat dalam peristiwa
Komune Paris hingga perjuangan pengurangan jam kerja. Untuk kemenangan yang
disebutkan terakhir (pengurangan jam kerja), perjuangan buruh patut diberikan
apresiasi karena penncapaian ini merupakan hasil rentetan panjang perjuangan
kelas selama ratusan tahun. Keberhasilan kaum buruh dalam mengurangi jam kerja
hingga 8 jam (yang buruh saat ini nikmati) menjadi momentum dan kemudian
diperingati sebagai peritiwa Mayday.
Jumat, 29 Maret 2013
Konstruksi Ulang Atas Mitos Gerakan Mahasiswa
Tugas gerakan mahasiswa saat ini adalah mendefinisikan ulang diri mereka
sendiri dan posisi mereka dalam relasi antar masyarakat. Hal ini menjadi
penting mengingat gerakan mahasiswa
semakin kehilangan esensinya dalam iklim demokrasi liberal seperti saat ini. Proses
pendefinisian ulang inipun termasuk membongkar mitos-mitos yang telah berakar dalam
diri mahasiswa itu sendiri. Penyambung lidah rakyat, agen perubahan, pemimpin
masa depan, atas nama rakyat, serta berbagai macam jargon-jargon yang telah
kita terima bahkan ketika baru menginjakkan kaki di kampus adalah hal-hal yang
patut dikritisi bersama. Bagi penulis, tujuan akhir dari proses pendefinisian ulang ini adalah kesadaran
kolektif mahasiswa dalam relasi antarmasyarakat dan bagaimana melakukan gerakan
dalam kesadaran kolektif yang telah didefinisikan ulang tersebut.
Jumat, 22 Februari 2013
Pendidikan Menurut Paulo Freire
Di tengah permasalahan pendidikan yang sedang melanda
Indonesia dewasa ini, seperti masih sulitnya pendidikan dijangkau semua
golongan masyarakat, angka buta huruf yang masih tinggi, hingga
kebijakan-kebijakan privatisasi pendidikan a’la kaum neoliberal, ada baiknya
kita mempelajari pemikiran-pemikiran tokoh yang fokus membahas tentang esensi
pendidikan itu sendiri. Dalam esai ini akan dibahas salah satu filsuf yang
memang terkenal dengan pemikiran-pemikirannya dalam bidang pendidikan, Paulo
Freire.
Jumat, 01 Februari 2013
Reason in Revolt: Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern
“Ketika kita merenungi alam atau sejarah umat manusia atau
aktivitas intelektual kita sendiri, pertama-tama kita melihat satu gambar yang
terdiri dari jaring-jaring hubungan yang tiada ujung-pangkalnya, dimana tidak
sesuatupun yang tinggal tetap, dimana dan sebagaimana adanya, tapi segala
sesuatu bergerak, berubah, lahir dan mati…”
Langganan:
Postingan (Atom)


