Senin, 31 Januari 2011

Hariman dan Malari, Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing


Lagi, satu buku yang mengulas satu era romantisme kejayaan mahasiswa sekaligus tokohnya, peristiwa MALARI dan Hariman Siregar. MALARI dan Hariman Siregar (Selanjutnya disingkat HS) adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketika terjadi kerusuhan sekaligus pembakaran barang-barang Jepang yang terjadi di Jakarta, HS saat itu sedang melaksanakan rapat akbar menentang PM Jepang Tanaka di Universitas Trisakti selaku ketua umum DM-UI. Alhasil, HS dianggap sebagai biang keladi terjadinya kerusuhan dan pembakaran massal di Jakarta pada waktu itu. Padahal bukan rahasia umum lagi bahwa HS tidak terlibat sama sekali, selain itu kemungkinan besar latar belakang peristiwa ini adalah rivalitas tidak sehat aspri (asisten pribadi) soeharto, yaitu antara Soemitro dan Ali Moertopo.

Selanjutnya, HS-pun ditahan dengan UU subversiv. Setelah keluar dan menamatkan pendidikan dokternya di FKUI, hariman tidak jera dan tetap concern dengan perjuangannya, sampai orde baru jatuh, dan sampai sekarang. Itulah mengapa dia menjadi legenda para aktivis pada zamannya maupun aktivis mahasiswa zaman sekarang.

Pribadi HS dapat kita kenal lebih jauh lewat buku ini pada bab ‘Mereka Bicara Hariman’. Total ada 56 orang yang memeberikan komentarnya tentang sosok satu ini mulai dari istrinya sendiri, politikus, pengacara, tokoh agama, sastrawan, militer, dan orang-orang yang pernah dekat dengan dia. Sosok HS dari yang saya baca di buku ini adalah sosok yang blak blakan dalam berbicara, hal ini saya akui sendiri ketika sempai beberapa kali melihat dia di TIM dan di secretariat Indemo di Jl. Lautze. Dia tidak segan-segan berkata mony*t ketika kami membicarakan rector UI sekarang, ayahanda Gumilar. Hahaha…ada-ada saja. Selain itu HS adalah sosok yang sangat solider, berada digaris paling depan ketika temannya memerlukan bantuan baik itu financial ataupun hal lain, banyak kawan-kawan aktivis yang dibantu HS dalam biaya indekos maupun untuk mengerahkan aksi massa. Tapi lama kelamaan mambaca bab ini membuat saya bosan, mungkin karena yang dibicarakan tentang HS ya itu-itu saja, kalau tidak tentang MALARI-nya, ya tentang kesoliderannya. Hanya beberapa orang yang memberikan komentar tentang HS dalam sudut yang berbeda.

Yang unik dari HS adalah pilihan dia untuk tetap berada di lingkar luar kekuasaan, meskipun pada waktu era Habibie dia berada dalam lingkup penerintahan namun itu hanya sebatah penasihat saja tanpa jabatan structural. Mungkin dia adalah orang yang takut untuk masuk ke lingkar kekuasaan karena dia yakin kalau dia masuk kedalam lingkar kekuasaan dia akan terpengaruh. Selain itu, alasan HS tidak berada di lingkar kekuasaan –padahal jika dia mau bisa dengan sangat mudah- adalah ketidakpercayaan HS akan demokrasi yang ada di Indonesia. Dia berpandangan, demokrasi yang terjadi di Indenesia adalah ‘demokrasi semu’ sebatas pada pemilihan umum dibalik bilik suara yang pemilunya-pun sudah di atur sedemikian rupa oleh para elit untuk melanggengkan kekuasaannya, dan setelah semua bentuk ‘demokrasi semu’ itu selesai, rakyat masih miskin, janji tinggal janji.

HS, adalah tokoh, itu tidak bisa dipungkiri. Yang dapat dipelajari dari sosok ini adalah bagaimana kekonsistenan dia untuk membela hak-hak rakyat yang semakin terjepit oleh privatisasi dan liberalisasi, bagaimana kesetiakawanan dia, bagaimana kritikan dia terhadap pemerintahan yang tak pernah padam. Satu lagi, dia selalu yakin akan gerakan aksi massa khususnya gerakan mahasiswa. Dia dari dulu, sampai sekarang, masih yakin akan kekuatan mahasiswa sebagai agent of change. Ketika parlemen sudah tidak bisa menjalankan tugas yang semestinya untuk mensejahterakan rakyat, maka parlemen jalanan lewat aksi massa yang dikomandani oleh mahasiswa adalah jawabannya. Kenapa mesti mahasiswa? Bukan bermaksud eksklusif, tapi gerakan seperti gerakan buruh, nelayan, atau petani, perlawanan dan aksi massa mereka hanya sebatas perlawanan terhadap ketidakadilan yang mereka rasakan yang bersentuhan langsung dengan mereka. Berbeda dengan mahasiswa, perjuangan yang dilakukan mahasiswa merupakan perjuangan lintas-sektoral dengan berlandaskan idealisme tinggi khas anak muda. Ini adalah hal yang membedakannya menurut HS. Yang menjadi masalah adalah ketika mahasiswa malah kehilangan idealismenya akibat tuntutan akademis dan berbagai macam kenikmatan yang mereka nikmati. Disinilah peran tokoh seperti HS, peran dia adalah sebagai bahan bakar agar gerakan mahasiswa tetap menyala dan tidak kehilangan api idealismenya.

Sekali lagi, mari merefleksikan diri sejenak setelah 37 tahun pasca MALARI, nampaknya tidak ada yang berubah, negeri kita yang tercinta ini masih ada dalam genggaman asing, kita seperti menjadi tamu di negeri sendiri. Sejatinya harga diri kita sebagai bangsa besar telah dijual sedemikian murahnya oleh anak bangsa sendiri lewat penjualan BUMN, pencabutan subsidi bagi rakyat kecil, privatisasi dan liberalisasi bangsat. Apakah harus terjadi MALARI jilid II untuk mengingatkan pemerintah kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar