Jumat, 22 Februari 2013

Pendidikan Menurut Paulo Freire



Di tengah permasalahan pendidikan yang sedang melanda Indonesia dewasa ini, seperti masih sulitnya pendidikan dijangkau semua golongan masyarakat, angka buta huruf yang masih tinggi, hingga kebijakan-kebijakan privatisasi pendidikan a’la kaum neoliberal, ada baiknya kita mempelajari pemikiran-pemikiran tokoh yang fokus membahas tentang esensi pendidikan itu sendiri. Dalam esai ini akan dibahas salah satu filsuf yang memang terkenal dengan pemikiran-pemikirannya dalam bidang pendidikan, Paulo Freire.


Freire lahir pada 19 September 1921 di Recife, Brazil. Masa kecilnya dihabiskan dalam kondisi yang serba kekurangan meskipun ia termasuk kelas menengah. Namun kondisi ini tidak membuat Freire menyerah, Ia berhasil masuk di Fakultas Hukum di University of Recife. Disana Ia juga belajar filsafat dan psikologi. Dalam periode inilah dia mulai mengenal karya-karya Marx yang nantinya mempengaruhi pemikirannya. Karier Freire sebagai direktur Departemen Pendidikan dan kebudayaan di The State of Pernambuco membuat Freire memiliki hubungan langsung dengan masyarakat miskin. Freire juga melakukan program untuk melakukan pemberantasan buta huruf kepada ribuan petani miskin disana. Ketika militer menguasai Brazil tahun 1964, seluruh gerakan progresif dibungkam, termasuk Freire. Di penjara inilah muncul karya pertama Freire tentang pendidikan, Education as the Practice of Freedom. Selain itu, Ia juga membuat buku berjudul Pedagogy of the Oppressed yang juga membahas tentang pendidikan.

Visi pendidikan Freire adalah bagaimana pendidikan menjadi kesatuan antara teori dan praxis untuk melihat dan mengubah realitas sosial masyarakat yang penuh dengan penindasan. Pendidikan, ditujukan untuk humanisasi diri dan sesama, melalui tindakan sadar untuk mengubah dunia (Freire dikutip dari Pramono: 2012). Pendidikan bagi kaum tertindas bukan hanya mencoba memberikan teori yang kering atas pertanyaan dari realitas, lebih dari sekedar itu, harus merupakan pemberi motivasi untuk kehidupan. Sedangkan pendidikan bagi kaum tertindas sendiri, menurut Freire sebagaimana dikutip dari Pramono (2012), adalah
…makes oppression and its causes objects of reflection by the oppressed, and from that reflection will come their necessary engagement in the struggle for their liberation. And in the struggle this pedagogy will be made and remade.

Inti dari pandangan Freire tentang pendidikan adalah sebagai upaya untuk penyadaran (conscientizacao). Dalam hal ini Freire menggolongkan pendidikan yang ada saat itu sebagai pendidikan yang membuat kesadaran magis tetap terus langgeng. Kesadaran magis sendiri adalah kesadaran yang tidak mampu menjelaskan kaitan antara satu faktor dan faktor lainnya sehingga apa yang ada dianggap sebagai sebuah kebenaran yang tidak bisa diubah. Kesadaran ini membuat masyarakat tidak berdaya. Untuk itu Freire ingin membuat kesadaran magis itu menjadi kesadaran kritis melalui pendidikan. Kesadaran kritis merupakan kesadaran yang mampu melihat sistem dan struktur yang menjadi dasar dari suatu masalah.

Perbedaan conscientizacao dengan sistem pendidikan lainnya adalah tidak adanya jawaban yang telah final. Setiap individu memiliki kebenaran yang sama, hanya terdapat perbedaan dalam melihat dan memformulasikan jawaban tersebut. Conscientizacao bukanlah tujuan sederhana yang harus dicapai, tetapi merupakan tujuan puncak dari pendidikan untuk kaum tertindas (William Amith dalam Pramono, 2012).

Upaya transformasi kesadaran magis menjadi kesadaran kritis ini diupayakan Freire melalui pendidikan yang bersifat dialogis-kritis, mengantarkan guru dan murid untuk duduk bersama menyelesaikan suatu masalah. Karena kaum tertindas tidak dapat masuk begitu saja untuk menghancurkan propaganda dan manipulasi realitas, mereka harus turut serta bersama guru-gurunya untuk secara kritis memperoleh pengetahuan tentang realitas. Dialog, menurut Freire merupakan tindakan revolusioner, yaitu pengetahuan empiris yang bertemu dengan pengetahuan kritis. Dalam konteks dialog yang teoritis, fakta yang dihadirkan keadaan nyata secara kritis bisa dianalisis. Analisis ini melibatkan pengujian atas abstraksi dengan cara mempresentasikan realitas konkret yang dilakukan dengan mencapai pengetahuan tentang realitas itu. Instrumen untuk itu adalah kodifikasi, atau representasi eksistensial murid. Kodifikasi menghadirkan realitas yang ada, kemudian dianalisis dalam konteks dimana mereka hidup. Hasil akhir dari kodifikasi ini adalah pengakuan (admiration) terhadap realitas yang akan membuat murid ragu terhadap persepsi akan realitas hidup sebelumnya dan menggantinya dengan pengetahuan yang lebih kritis.

Pandangan tentang pendidikan yang dialogis ini dari aspek historis merupakan antitesa dari pendidikan banking (istilah yang dibuat sendiri oleh Freire). Banking Education dilukiskan sebagai ilmu pengetahuan yang dapat ditransfer dari satu orang kepada orang lain, seperti uang dan barang. Pengajar mendominasi murid adalah ciri dari model pendidikan ini. Menurut Freire, model pendidikan ini membuat dikotomi kesadaran dan dunia, oleh karenanya pendidikan model ini telah mendomestifikasi realitas.

Kesadaran kritis merupakan prasyarat dalam melakukan transformasi sosial. Sebagai contoh, kekuasaan kaum penindas tidak akan langgeng tanpa kesadaran dan eksistensi dari yang tertindas itu sendiri. Menurut Pramono (2012), penindas dan yang tertindas merupakan manifestasi dari dehumanisasi. Penindas didehumanisasikan oleh tindak penindasan yang membutakannya bahwa itu bisa menghancurkan dirinya sendiri, sementara yang tertindas didehumanisasi oleh realitas eksistensial penindas dan internalisasi bayang-bayang penindas. Terjadi identitas ganda dari eksistensi penindas itu sendiri. Karena pendidikan bertujuan untuk humanisasi, dan penindas dan yang tertindas sama-sama dalam keadaan dehumanisasi, maka tugas kaum tertindaslah untuk membebaskan dirinya sendiri dari penindas-penindasnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar