Kamis, 11 April 2013

Uraian Singkat Tentang Materialisme Dialektis


Materialisme dialektika adalah inti dari marxisme. Selama ini, marxisme dianggap sebagai sebuah ideologi. Hal tersebut tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Menurut Njoto (1962), materialisme adalah konsepsi filsafat Marxis, sedang dialektika adalah metode-nya. Kemudian, apakah itu “materialisme” dan apa itu “dialektika”?


Materialisme
Dalam sejarah panjang filsafat, terdapat dua kutub yang saling bertentangan: idealisme dan materialisme. Namun, tidak seperti pengertian yang kita pahami sehari-hari dimana materialisme diidentikkan dengan kesenangan terhadap hal-hal duniawi dan idealisme selalu diidentikkan dengan sesuatu yang mulia, dalam filsafat definisi ini sangat berbeda.

Dalam filsafat, materialisme adalah paham yang mempercayai bahwa asal mula adalah materi yang merupakan hakikat. Hal ini juga termasuk kesadaran dan ide kita. Hal yang paling sederhana, keberadaan kesadaran dan ide hanya dapat terjadi karena kita memiliki otak sebagai salah satu materi yang ada di tubuh kita. Ketika otak itu rusak, maka kesadaran dan ide kita pun akan hilang. Sebaliknya, idealisme yang menurut sejarah dicetuskan oleh Plato adalah pandangan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini hanyalah merupakan refleksi dari ide-ide yang telah ada di “dunia ide” yang kekal. Contohnya, kaum idealis akan berpikir bahwa “segitiga” adalah suatu konsep yang abadi dengan atau tanpa kita menggabungkan tiga garis di sebuah papan tulis.

Namun, materialisme sebelum Marx masih dianggap sebagai “idealisme terselubung”. Materialisme saat itu masih sebatas pada objek indrawi belaka, maksudnya, materialisme pra-marx belum dapat menyadari bahwa obyek-obyek material itu adalah juga hasil dari aktivitas subyektif manusia. Marx yang membongkar materialisme saat itu berhasil membuat sesuatu yang baru dalam dunia filsafat, yaitu menempatkan subjektifitas manusia sebagai bagian penting dalam membangun objek indrawi. Dalam kerangka seperti ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa keseharian kita dan segala objek yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang alami melainkan juga merupakan aktifitas dan intervensi manusia/subjek. Contohnya, kerusakan alam atau harga yang fluktuatif, semua itu adalah produk kerja manusia dan bukan sesuatu yang alami.

Dialektika
Dalam konsepsi Marx, materialisme dan dialektika bukanlah sesuatu yang dapat dipisahkan. Materialisme tanpa dialektika adalah materialisme yang kaku dan formalis sehingga tidak mampu menjelaskan dunia secara utuh. Dialektika sendiri bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia filsafat, bahkan telah ada sejak zaman Yunani kuno dalam memahami alam dan perubahan. Marx sendiri banyak terpengaruhi metode dialektika dari Hegel, filsuf besar Jerman. Namun, berbeda dengan Hegel yang merupakan dialektika idealistik, Marx memilih dialektika materialis. Konsepsi Hegel tentang dialektika adalah tesis-antitesis-sintesis, kesemuanya merupakan cara untuk mendekati hakikat. Namun, sebagaimana pandangan idealistik, tesis-antitesis-sintesis hanya terjadi dalam ide/pemikiran. Marx memilih “menjabarkan” dialektika ini dalam alam materil.

Proposi awal dari dialektika adalah segala sesuatu selalu berada dalam keadaan bergerak dan saling bertentangan, tidak berada dalam garis lurus dan diam. Ada tiga hukum utama dalam memahami dialektika, yaitu: perubahan kuantitas menjadi kualitas; kutub berlawanan dan saling merasuki; serta negasi dari negasi.

Contoh dari perbahan kuantitas ke kualitas terjadi dalam berbagai fenomena alam seperti mendidihnya air. Air yang dimasak akan mengalami kenaikan suhu (kuantitas), namun ketika telah mencapai 100 derajat celcius, air tersebut akan berubah menjadi uap (kualitas). Meskipun memang perubahan ini tidak berada dalam satu garis lurus, namun pada momen tertentu mengalami loncatan. Perubahan ini bukan hanya terjadi dalam fenomena alam, namun juga dalam fenomena sosial, termasuk perubahan dalam masyarakat. Contohnya, reformasi 1998 yang membawa perubahan kualitatif di Indonesia terjadi bukan hanya karena krisis ekonomi pada tahun 1997, namun juga merupakan akumulasi dari sistem otoritarian selama 32 tahun.

Hukum dialektika kedua, kutub berlawanan dan saling merasuki, atau dengan bahasa yang lebih mudah adalah kontradiksilah yang menjadi penyebab perubahan. Sesuatu yang bertentangan bukanlah dua hal yang berbeda dan tereksklusi satu sama lain. Hal ini dapat ditemui dalam banyak hal, dalam ilmu eksak maupun ilmu sosial. Contohnya adalah fenomena hidup dan matinya seseorang. Hidup dan mati adalah dua hal yang saling berlawanan, tetapi juga merupakan dua hal yang saling merasuki. Kita hidup selama jantung kita bekerja, namun disisi lain, ribuan sel mati dari tubuh kita dan digantikan dengan sel baru.

Hukum ketiga, negasi dari negasi yang bersinggungan dengan kontradiksi dari hukum kedua dialektika. Kontradiksi ini bukan kemudian benar-benar menghilangkan bentuk yang telah ada sebelumnya, namun penegasian ini artinya bentuk yang lama dilampau dan dipertahankan dalam waktu yang sama. Contohnya adalah perkembangan tanaman dimana tanaman dimuai dari biji, berkecambah, berbuah kemudian menghasilkan biji lagi. Tahapan-tahapan ini saling menegasikan namun masih mempertahankan esensi bentuk sebelumnya.

Kemudian?
Setelah memahami secara ringkas uraian sederhana tersebut, kemudian dikaitkan dalam konteks kekinian, maka tidak lain akan timbul jawaban bahwa materialisme dialektika tidak lain adalah merupakan metode berpikir dalam memahami realitas. Misalnya, setelah memahami materialisme, maka kita pun tersadar bahwa relasi sosial yang ada saat ini, kesadaran subjek, adalah akibat konstruksi dari subjek manusia itu sendiri yang membuat keadaan. Hal ini membuat kita bertanya apakah kesadaran kita saat ini benar-benar merupakan kesadaran nyata, ataukah hasil konstruksi dari kelas yang sedang berkuasa yang tidak lain digunakan untuk melanggengkan status quo mereka. Klaim-klaim yang menyebutkan bahwa manusia adalah mahluk yang serakah dan individual harus kita pertanyakan lagi, karena memang klaim-klaim itulah yang paling cocok dan membuat status qou sistem kapitalistik tidak terusik.

Kemudian dialektika pun “memaksa” kita untuk berpikir alternatif-alternatif lain diluar sistem yang ada, karena memang kehidupan bukanlah sesuatu yang berulang melainkan sesuatu yang terus berubah. Dalam relasi sosial, kelas-kelas penguasa saat ini tentu tidak menginginkan perubahan, kecuali, kaum tertindas mendobrak kemapanan yang ada sesuai dengan kontradiksi-kontradiksi yang secara kuantitas terus menerus terjadi.

Sedikit uraian singkat tentang materialisme dialektika di atas tentu sangat jauh dari lengkap dan membuka ruang diskusi yang teramat luas untk digarap. Namun, satu hal yang harus diketahui, bahwa inti dari marxisme adalah materialisme dialektis ini. Materialisme dialektis merupakan metode berpikir yang dikembangkan Marx. Tanpa memahami materialisme dialektis, kita tidak akan mampu memahami pokok-pokok pemikiran Marx yang lain (meskipun materialisme dialektis inipun tidak pernah secara eksplisit dituliskan oleh Marx) seperti Materialisme Historis dan kritik terhadap kapitalisme yang akan dituangkan dalam esai ringan selanjutnya. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar